STITUSA BANJARNEGARA

Teori Pembelajaran Yang Wajib Di Ketahui Oleh Mahasiswa Pendidikan Nih, Khususnya Bagi Calon-Calon Tenaga Pendidik Yaa

Memahami bagaimana kita belajar adalah kunci untuk meningkatkan pendidikan dan pengembangan diri kita. Teori pembelajaran adalah kerangka kerja yang menjelaskan bagaimana informasi diproses, diserap, dan disimpan oleh individu. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran singkat tentang beberapa teori pembelajaran dasar yang telah membentuk pemahaman kita tentang proses belajar.

1. BEHAVIORISME

Behaviorisme berpendapat bahwa pembelajaran adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus dari lingkungan. Pentingnya stimulus, respons, dan hadiah/hukuman menjadi inti dari teori ini. Tokoh kunci dalam behaviorisme meliputi:
1) Ivan Pavlov, yang terkenal dengan konsep Pengkondisian Klasik yaitu cara otak kita belajar menghubungkan dua hal yang tadinya tidak berhubungan, sampai akhirnya salah satu hal itu bisa memicu respons otomatis. Seperti percobaan Ivan Pavlov kepada seekor anjing.
2) B.F. Skinner, yang mengembangkan Pengkondisian Operan yaitu cara kita belajar dari apa yang terjadi setelah kita melakukan sesuatu. Contohnya Seorang siswa yang belajar keras (respons) dan mendapatkan nilai bagus (hadiah) cenderung akan terus belajar keras di masa depan. Sebaliknya, jika ia tidak belajar dan mendapatkan nilai buruk (hukuman), ia mungkin akan mengubah kebiasaan belajarnya.

Dalam praktiknya, behaviorisme terlihat dalam latihan berulang untuk menguasai keterampilan atau memberi pujian untuk perilaku yang baik guna mendorong pengulangannya.

2. KOGNITIVISME

Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang muncul setelah teori behavioristik. Hadirnya teori belajar kognitif untuk merespon teori belajar behavioristik yang hanya memerhatikan kondisi psikologi saja. Jika teori belajar behavioristik mengutamakan adanya stimulus dan respon, maka lain halnya dengan teori belajar kognitif yang tidak hanya memerhatikan stimulus dan respon, tetapi juga mengutamakan adanya perubahan mental dan perilaku, seperti cara peserta didik memahami suatu hal, cara peserta didik berpikir, dan cara peserta didik menggunakan pengetahuannya. Adapun tokoh-tokoh yang menganut teori ini antara lain:

1) Jean Piaget, beranggapan bahwa suatu perkembangan kognitif adalah sebuah proses yang terjadi secara genetik. Oleh sebab itu, proses genetik diyakini berdasarkan dari kondisi biologis seseorang. Dalam hal ini, kondisi biologis dapat dilihat melalui adanya perkembangan atau pertumbuhan yang terjadi pada sistem saraf. Misalnya, seseorang yang bertambah usia, maka susunan susunan sistem sarafnya semakin kompleks, bahkan akan kemampuan yang dimiliki akan semakin bertambah.
Jean Piaget mengatakan bahwa kemampuan berpikir dan kekuatan mental dari seorang anak yang berbeda usia, maka perkembangan intelektual secara kualitatif juga berbeda. Oleh sebab itu, Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif yang terjadi pada seseorang secara kuantitatif ke dalam empat tahap, di antaranya: Tahap Sensorimotor (0-2 Tahun), Tahap Pra-Operasional (2-7 Tahun), Tahap Operasional Konkrit (7-12 Tahun), Tahap Operasional Formal (11-18 Tahun).
2) David Ausubel. Teori belajar kognitif David Ausubel bisa dikatakan dipengaruhi oleh teori kognitif Jean Piaget. David Ausubel selalu mengaitkan konsep atau skema konseptual Jean Piaget terhadap cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, David Ausubel selalu meyakini bahwa penalaran deduktif bisa digunakan untuk mencapai suatu pemahaman konsep, ide atau gagasan, dan prinsip.
Konsep teori kognitif David Ausubel mengutamakan kegiatan pembelajaran yang bermakna. Ia membagi “belajar yang bermakna” ke dalam dua jenis, yaitu belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar menghapal (rote learning).
3) Jerome Bruner, mengatakan bahwa seorang guru harus bisa untuk memberikan kesempatan pada peserta didiknya agar bisa menjadi seorang yang bisa menyelesaikan suatu masalah, seorang yang cerdas, seorang yang menyukai sejarah, seorang yang pandai dalam bidang matematika, dan sebagainya. Dalam pandangan Jerome Bruner proses belajar sangat dipengaruhi dengan adanya pengaruh kebudayaan terhadap perilaku peserta didik.
Free discovery learning adalah teori belajar kognitif yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh Jerome Bruner. Ia menyatakan bahwa suatu proses belajar atau pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan kreatif apabila seorang guru dapat memberikan kesempatan pada peserta didik demi menemukan sebuah konsep, aturan, teori, dan pemahaman yang berkaitan dengan kehidupan.
Selain itu, Jerome Bruner juga membagi perkembangan kognitif menjadi 3 tahap atau model, yaitu: Tahap Enaktif, Tahap Ikonik, dan Tahap Simbolik
3. KONTRUKSIVISME

Konstruktivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa peserta didik secara aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Dalam pandangan ini, belajar bukan hanya menerima informasi secara pasif, melainkan proses aktif membentuk makna dari pengalaman yang dialami.

A. Konsep Dasar:
1.Pembelajaran dipandang sebagai proses konstruksi, bukan transmisi informasi.
2.Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman, bukan diterima secara langsung.
3.Pemahaman diperoleh melalui keterlibatan aktif dalam situasi nyata dan kontekstual.
B. Tokoh-Tokoh Utama:
1. Jean Piaget

Jean Piaget meyakini bahwa anak-anak membangun pemahaman mereka sendiri tentang dunia melalui proses asimilasi dan akomodasi. Pembelajaran terjadi ketika seseorang menghadapi situasi baru dan berusaha mengintegrasikannya dengan struktur pengetahuan yang telah dimiliki.

2. Lev Vygotsky

Vygotsky mengembangkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD) yaitu jarak antara kemampuan aktual yang dimiliki peserta didik dengan potensi kemampuan yang dapat mereka capai dengan bantuan dari orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Interaksi sosial, bahasa, dan budaya menjadi sangat penting dalam proses belajar menurut Vygotsky.

C. Aplikasi Sederhana dalam Dunia Pendidikan:
1. Menerapkan pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning yang memungkinkan siswa belajar dari kegiatan nyata.
2. Menggunakan diskusi kelompok, kolaborasi, dan pembelajaran kontekstual.
3. Memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik mengeksplorasi, mencoba, dan merefleksikan hasilnya secara mandiri.

KESIMPULAN

Setiap teori pembelajaran behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme menawarkan perspektif unik mengenai cara individu belajar dan bagaimana pengajaran seharusnya dilakukan.
Behaviorisme,menekankan pada perubahan perilaku melalui stimulus dan respons, cocok digunakan untuk pembelajaran yang mengandalkan kebiasaan dan penguatan.

Kognitivisme, melihat pembelajaran sebagai proses internal yang melibatkan pemrosesan informasi, sangat berguna dalam merancang strategi berpikir dan memahami struktur pengetahuan.

Konstruktivisme, menekankan pada peran aktif peserta didik dalam membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman dan interaksi sosial.
Penting untuk disadari bahwa tidak ada satu pendekatan tunggal yang sepenuhnya mencakup seluruh kebutuhan belajar seseorang. Pendekatan yang efektif adalah yang adaptif menggabungkan berbagai teori dan disesuaikan dengan konteks pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan tujuan pendidikan itu sendiri.

Scroll to Top