STITUSA BANJARNEGARA

Perempuan di Kampus : Kuat yang Dipaksa, Diam yang Dinormalkan

Oleh: Pangesti Dewi Lestari

UKM Jurnalistik

Menjadi mahasiswa tidak hanya soal kuliah, tugas, dan organisasi. Bagi banyak perempuan, kampus adalah ruang belajar yang juga diam-diam mengajarkan satu hal pahit: suara perempuan sering kali tidak dianggap penting.

Ketika perempuan bersuara, ia disebut emosional.

Ketika ia diam, ia dianggap tidak berkontribusi.

Ketika ia tegas, ia dicap keras.

Ketika ia lelah, ia diminta “lebih kuat”.

Kampus kerap mengaku sebagai ruang intelektual yang kritis dan humanis, tetapi kenyataannya belum selalu ramah bagi pengalaman perempuan. Banyak mahasiswi belajar bertahan bukan karena kuat, melainkan karena tidak diberi pilihan lain selain bertahan.

 

Luka yang Tidak Pernah Masuk Penilaian Akademik

Tidak semua mahasiswa datang ke kampus degan kondisi yang sama. Ada yang membawa beban ekonomi, ada yang memikul luka keluarga, ada pula yang tumbuh dengan rasa takut yang tak pernah benar-benar selesai.

  • Namun sistem akademik tidak pernah bertanya :
  • Apakah kamu belajar sambil menahan tangis,
  • Apakah kamu aktif organisasi sambil menahan trauma,

Atau apakah kamu hadir di kelas dengan kepala yang sudah terlalu lelah.

IPK tidak mencatat luka.

Prestasi tidak menghitung beban mental

Prestasi tidak menulis harga yang harus dibayar

Seorang perempuan untuk tetap “baik-baik saja”.

 

Budaya Diam dan Normalisasi Ketidakadilan 

Di lingkungan kampus dan organisasi mahasiswa, perempuan sering diarahkan untuk mengalah, memahami keadaan, dan tidak memperbesar masalah. Kalimat-kalimat ini terdengar bijak, tetapi sering kali menjadi alat untuk membungkam.

Perempuan diminta sabar ketika batasnya dilanggar.

Perempuan diminta tenang ketika suaranya diabaikan.

Perempuan diminta kuat ketika sistem tidak berpihak.

Ini bukan soal sensitif atau tidak. Ini soal ketidakadilan yang dinormalisasi.

 

Untuk Mahasiswi yang Sedang Diam-Diam Lelah

Jika kamu adalah mahasiswi yang merasa capek tapi tetap datang ke kampus, tulisan ini untukmu.

Kamu tidak lemah karena merasa lelah.

Kamu tidak berlebihan karena merasa sakit.

Kamu tidak gagal hanya karena hari-harimu terasa berat.

 

Menangis bukan tanda kelemahan.

Meminta bantuan bukan aib.

Mengakui luka bukan kegagalan.

Justru budaya yang memaksa perempuan terus kuat tanpa

ruang pulihlah yang patut dipertanyakan.

 

Kampus Perlu Ruang Aman, Bukan Sekadar Slogan

Sudah saatnya kampus dan organisasi mahasiswa berhenti hanya menjadikan “ruang aman” sebagai jargon. Perempuan tidak membutuhkan ceramah tentang ketahanan, , melainkan ruang untuk didengar tanpa dihakimi.

Solidaritas antar perempuan penting, tetapi dukungan sistem jauh lebih penting. Mendengarkan, membela, dan mempercayai cerita mahasiswi adalah langkah awal menuju kampus yang benar-benar adil.

Penutup

Perempuan tidak meminta perlakuan istimewa.

Perempuan hanya meminta keadilan dan kemanusiaan.

Untuk mahasiswi yang masih bertahan hari ini meski lelah, meski hampir menyerah. Ketahuilah: kamu berharga, bahkan ketika sistem belum sepenuhnya berpihak padamu.

 

Scroll to Top